Sukses

Agni Pratistha Turun 15 Kilogram demi Pinky Promise

Liputan6.com, Medan - Pinky Promise rupanya menjadi film Agni Pratistha yang paling menantang. Karena itu, Pinky Promise menjadi film yang menurut dia cukup spesial. 

“Sudah ada sekitar lima judul film yang saya bintangi dan memang film Pinky Promise ini cukup berbeda karena di film ini juga saya harus rela dibotaki,” ujar mantan Putri Indonesia 2006 ini saat ditemui seusai meet and greet film Pinky Promise di XXI Centre Point Mall Medan, Senin (17/10/2016).

 Agni Pratistha (Reza Perdana)

Wanita kelahiran 8 Desember 1987 ini menuturkan, awalnya ia sempat ragu dengan peran yang diberikan kepadanya karena ia sebelumnya belum pernah berperan sebagai seorang wanita yang mengidap kanker payudara.

“Awalnya masih ragu dan sempat bertekad kalau enggak cocok enggak akan diambil. Namun ternyata pas ketemu sutradara dan melihat naskahnya ternyata klop dengan peran tersebut dan langsung diambil,” ujarnya.

Ia menerangkan, persiapan yang dilakukan sebelum akhirnya syuting film Pinky Promise tersebut cukup panjang, yakni sekitar tiga hingga enam bulan.

“Persiapannya sekitar tiga sampai enam bulan, karena saat itu juga aku diminta untuk turun berat badan sekitar 15 kilogram karena memang kemarin aku baru habis melahirkan,” tutur Agni Pratistha.

Ia menjelaskan, selain cerita yang bagus dan tim yang cukup asyik, misi sosial dari film Pinky Promise tersebut menjadi alasan terbesar untuk ikut bermain di film tersebut.

“Kan senang kalau kita main film dan film tersebut memiliki dampak positif bagi penontonnya,” katanya.

 Derby Romero (Herman Zakharia)

Antusiasme untuk ikut berpartisipasi dalam film yang disutradarai Guntur Soeharjanto tersebut juga diperlihatkan oleh Derby Romero. “Senang banget saya bisa ikut bermain di film Pinky Promise ini karena filmnya memang benar-benar memberi edukasi,” ujar Derby.

Ia mengungkapkan, tidak terlalu banyak kesulitan yang ia hadapi di film tersebut karena dari awal sutradara sudah memberikan pemahaman tentang film Pinky Promise tersebut.

“Kalau kesulitan sih enggak ada, mungkin lebih ke tantangan yaitu bagaimana cara mendapatkan chemistry agar bisa klop dengan lawan main,” ungkap Derby Romero. 

Ia menuturkan, film tersebut cukup asyik karena memberikan pemahaman baru, terutama tentang apa itu kanker payudara dan bagaimana seharusnya yang dilakukan penderita kanker payudara agar bisa bertahan.

Agni Pratistha, Guntur Soeharjanto, dan Derby Romero (Reza Perdana)

Sutrada film Pinky Promise, Guntur Soeharjanto, mengatakan bahwa film tersebut merupakan kisah nyata dari orang-orang yang bertahan dan optimist melawan penyakit kanker payudara yang ada di komunitas Love Pink.

“Di film ini kita memberikan edukasi kepada orang yang sudah atau belum kena kanker payudara tersebut,” jelasnya.

Sementara bagi sang sutradara, kesulitan terbesar mengerjakan film ini untuknya adalah detail yang harus dirangkum, karena Pinky Promise berdasarkan kisah nyata. “Kesulitan terbesar dari film ini karena film ini diangkat dari kisah nyata. Maka sebelum melakukan proses syuting, harus dilakukan riset terlebih dahulu, mulai dari penulisan naskah hingga dialog-dialognya,” ucapnya.

 Pinky Promise

Ia menerangkan, film merupakan media yang abadi karena setiap tahun selalu ada. Oleh karena itu, ia ingin membuat film yang bukan hanya menghibur, tetapi juga berguna dan berdampak positif bagi penontonnya.

Guntur juga menyebut bahwa dalam membuat film ia tak hanya mengejar keuntungan semata. Film yang menarik baginya adalah film yang abadi serta film yang memberikan manfaat positif bagi masyarakat, tak sekadar menjadi mesin uang.

“Lewat film Pinky Promise ini kita ingin mengedukasi bahwa siapa saja dan kapan saja bisa terkena penyakit kanker payudara dan bagaimana langkah seharusnya yang dilakukan,” kata Guntur Soeharjanto.