"The Cove" Diprotes Walikota Taiji
Astrid Puspasari
09/03/2010 12:24 | Film
Liputan6.com, Tokyo: Film dokumenter peraih Piala Oscar The Cove besutan sutradara Louie Psihoyos diprotes Walikota Taiji, Jepang. Karena, fakta material film itu tidak didukung bukti ilmiah dan cenderung dilebih-lebihkan. Demikian seperti dilansir Reuters, Senin (8/3).
"Sangat disesalkan," tegas Walikota Taiji, Kazutaka Sangen. "Perburuan itu legal di Jepang dan mendorong rasa hormat terhadap tradisi. Sikap saling menghormati juga penting berdasarkan pemahaman tradisi kuno dan sudah mendarah daging bagi mereka."
The Cove menceritakan sekelompok aktivis yang berjuang demi memperoleh akses ke sebuah teluk terpencil di Taiji --tempat perburuan dan pembantaian lumba-lumba tahunan. Dalam perjalananya, para aktivis itu mendapat perlawanan dari polisi dan nelayan setempat.
Film besutan mantan fotografer National Geographic itu juga menampilkan pernyataan pemerintah Jepang bahwa perburuan lumba-lumba dan ikan paus adalah tradisi budaya penting.
"Oscar akan membantu menyoroti peristiwa yang terjadi di Jepang. Saya khawatir, mereka tidak akan menghentikan perburuan lumba-lumba dalam beberapa tahun ke depan," kata Hans Peter Roth, penulis buku The Cove.
Seorang distributor Jepang akan menayangkan versi modifikasi The Cove, yang akan dirilis di kota-kota besar Jepang pada Mei atau Juni tahun ini. Dalam versi modifikasi itu, wajah para nelayan akan disamarkan.
Distributor juga akan menambahkan catatan mengenai penyanggahan tingginys tingkat merkuri dalam daging lumba-lumba yang dijual sebagai makanan dan disajikan untuk makan siang di sekolah-sekolah di daerah itu.(AST/SHA)
"Sangat disesalkan," tegas Walikota Taiji, Kazutaka Sangen. "Perburuan itu legal di Jepang dan mendorong rasa hormat terhadap tradisi. Sikap saling menghormati juga penting berdasarkan pemahaman tradisi kuno dan sudah mendarah daging bagi mereka."
The Cove menceritakan sekelompok aktivis yang berjuang demi memperoleh akses ke sebuah teluk terpencil di Taiji --tempat perburuan dan pembantaian lumba-lumba tahunan. Dalam perjalananya, para aktivis itu mendapat perlawanan dari polisi dan nelayan setempat.
Film besutan mantan fotografer National Geographic itu juga menampilkan pernyataan pemerintah Jepang bahwa perburuan lumba-lumba dan ikan paus adalah tradisi budaya penting.
"Oscar akan membantu menyoroti peristiwa yang terjadi di Jepang. Saya khawatir, mereka tidak akan menghentikan perburuan lumba-lumba dalam beberapa tahun ke depan," kata Hans Peter Roth, penulis buku The Cove.
Seorang distributor Jepang akan menayangkan versi modifikasi The Cove, yang akan dirilis di kota-kota besar Jepang pada Mei atau Juni tahun ini. Dalam versi modifikasi itu, wajah para nelayan akan disamarkan.
Distributor juga akan menambahkan catatan mengenai penyanggahan tingginys tingkat merkuri dalam daging lumba-lumba yang dijual sebagai makanan dan disajikan untuk makan siang di sekolah-sekolah di daerah itu.(AST/SHA)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
