Sukses

Nyanyian Indonesia, Ajak Para Pemuda Kembali Cinta ‎Seni Budaya

Liputan6.com, Jakarta Dalam rangka menyambut Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2017, Yayasan Cipta Asa Nusantara yang didukung Cipta Olah Persada menyuguhkan tontonan apik untuk para pemuda. Konser bertajuk 'Nyanyian Indonesia' itu ditampilkan di hadapan ribuan siswa menengah atas (SMA)‎ dan kampus se-Jabodetabek.

Selama dua jam, penonton disuguhkan dengan penampilan sekitar 20 lagu daerah yang dibawakan secara modern. Tak cuma itu, semua lagu daerah pun didukung dengan tarian khas masing-masing daerah.

"Acara ini memang melibatkan 100-an sekolah dan kampus se-Jabodetabek. Ada penampilan 20 lagu daerah yang dinyanyikan, serta tiga tarian daerah yang mewakili Indonesia Timur, Tengah dan Barat," kata Ketua Penyelenggara 'Nyanyian Indonesia', Djohan Makmur di Sentul International Convention Center, Sentul, Jawa Barat, Selasa (24/10/2017).

Menurut Djohan, pagelaran ini sengaja dibuat untuk menumbuhkan kembali rasa cinta pemuda-pemudi terhadap seni dan budaya Indonesia. Pasalnya rasa nasionalisme saat ini, kata Djohan, cukup memprihatinkan.

"Kami memakai tema Merajut Kebhinekaan‎ melalui Nyanyian Indonesia ini. Karena kita tahu bahwa Indonesia memiliki potensi yang berbeda-beda dan harus dieksplore. Cara membangkitkan itu melalui seni dan budaya merupakan cara paling bagus untuk dipertontonkan atau didengarkan," ucap Djohan Makmur.

Senada dengan Djohan Maksur, Unit Kerja Presidan Pembinaan Ideologi dan Pancasila (UKP_PIP), Yudi Latief menyelipkan pesan nasionalisme dan kebangsaan yang harus dimiliki generasi muda. Ia pun sempat membahas berbagai detail termasuk mengenai penjelasan tentang lambang negara.

"Bagaimana kita bisa menghargai dan menghormati keanekaragaman budaya Indonesia dengan 1340 suku dan 564 bahasa yang kita punya?‎ Jawabannya adalah kita langsung memelihara, melestarikan dan mengembangkan tradisi-budaya yang ada di masyarakat," ujar Yudi Latief.

Terakhir, ia pun memotivasi para pemuda Indonesia untuk mencontoh pasangan bulu tangkis Liliyana Natsir dan Tantowi Ahmad. Menurut Yudi, kedua atlet itu merupakan refleksi sempurna dari bentuk toleransi yang sukses di Indonesia.

"Coba kita lihat mereka, Indonesia banget. Berbeda jenis kelamin, warna kulit, suku, paras wajah, dan lainnya, tapi ketika mereka bersatu dan gotong royong, mampu menorehkan tinta emas," kata Yudi Latief.

"Negara yang paling banyak jumlah penduduknya, Tiongkok. Lalu disusul India, dan ketiga adalah kita. Namun, dari ketiga negara yang paling banyak jumlah penduduknya, siapa yang paling majemuk? Tentu saja negara kita," ia menandaskan. (Ras)

Saksikan Inspirato Bersama 3 Tokoh Inspiratif Indonesia

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
Teater Poda, Refleksi Kehidupan Dalam Pertunjukan Menyayat Hati
Artikel Selanjutnya
Mari Tertawa Bareng Longser Agustusan Lain Septemberan di Braga