Sukses

Flatliners, Teror Mencekam Usai Merasakan Kematian

Liputan6.com, Jakarta - Tema supernatural dan balas dendam kerap menjadi motif utama bagi sineas Hollywood dalam menciptakan film horor. Namun berbeda dengan Flatliners yang mengedepankan unsur fiksi ilmiah serta psikologis karakternya.

Flatliners merupakan daur ulang film berjudul sama yang dirilis pada 1990 silam. Di versi barunya ini, bintang-bintang muda didapuk sebagai karakter utamanya. Mereka adalah Ellen Page, Diego Luna, Nina Dobrev, James Norton, dan Kiersey Clemons.

Film Flatliners. (Sony Pictures)

Kelimanya dikisahkan sebagai mahasiswa kedokteran yang bereksperimen untuk mencari tahu apa yang terjadi setelah kematian tiba. Hal itu mereka lakukan dengan cara menghentikan denyut jantung masing-masing selama beberapa menit.

Ternyata, pengalaman tersebut membuat mereka membuka batas-batas di luar pemahaman kehidupan, sesuatu yang mengancam sekaligus mengerikan. Alhasil, mereka mencari cara supaya bisa menghentikan teror tak lazim yang menghantui mereka.

Lantas, apakah keseluruhan film arahan Niels Arden Oplev ini juga menarik seperti sinopsisnya? Berikut keistimewaan serta kekurangan dalam Flatliners.

1 dari 3 halaman

Mencekam

Film horor sains fiksi Flatliners. (Coming Soon)

Bagi para pencinta horor, Flatliners memang cocok untuk disaksikan. Pasalnya, selain menghadirkan hal-hal ilmiah, film ini juga memunculkan beragam penampakan entitas gaib yang mengejutkan dan mencekam.

Ditambah lagi, terdapat beberapa misteri yang rasanya cukup bisa membuat penonton penasaran dengan kenyataan sesungguhnya di balik kelima karakter utama itu.

Film ini juga sangat sesuai bagi penonton yang mengharapkan tema persahabatan nan kental. Kelima karakter utamanya juga tak diwarnai drama antar mereka, namun lebih kepada solusi untuk memecahkan masalah dengan pikiran positif.

2 dari 3 halaman

Terlalu Datar (Seperti judulnya)

Film Flatliners. (Sony Pictures)

Sayangnya, tema positif yang ada di Flatliners tak diimbangi dengan ritme adegannya. Dari awal sejak akhir, film ini terkesan sangat datar dan tanggung dalam menyampaikan hal-hal penting di dalamnya.

Yang lebih membingungkan lagi, terdapat beberapa misteri yang tak terpecahkan sampai pengujung film. Akting para pemainnya pun terbilang kurang kreatif dan terkesan hanya terpaku pada naskahnya.

Klimaks film pun tak mengundang detak jantung kencang ke penonton. Sebagai sebuah film horor campur ketegangan psikologis dan fiksi ilmiah, para sineas Flatliners melewatkan kesempatan untuk menjadikan film ini sebagai horor terbaik.